Sabtu, 21 Januari 2012

Pentingnya pendidikan agama bagi anak-anak


Anak merupakan buah hati bagi masing-masing orang tuanya. Kehadirannya ditengah-tengah keluarga merupakan kebahagiaan tersendiri bagi sang orang tua. Namun sungguh sangat disayangkan, ada sebagian orang tua yang justru mereka kurang memperhatikan anaknya. Mereka justru lebih sibuk mengurusi pekerjaan mereka atau hal yang lainnya. Sehingga sang anak kurang mendapatkan kasih sayang dan juga bimbingan dari orang tuanya.


Mereka menganggap bahwasanya yang terpenting adalah kebutuhan materi bagi sang anak, apabila hal ini telah terpenuhi maka sudah cukup. Ini adalah merupakan suatu bentuk kekeliruan dari sang orang tua. Memang kebutuhan materi itu penting, namun yang lebih penting dari hal tersebut adalah kebutuhan rohani untuk sang anak. Kasih sayang dan juga bimbingan dari orang tua merupakan hal yang sangat dibutuhkan oleh sang anak. Dimana sang anak nanti akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan bimbingan mereka. Dan sang anak biasanya lebih banyak menyerap pendidikan dari orang tua. Maka orang tua itu kedudukannya adalah sebagai guru yang pertama dan paling utama bagi sang anak.

Pendidikan bagi sang anak itu dimulai sejak sang anak masih kecil, dan masing-masing anak tentunya berbeda karakternya, sehingga tidak bisa disikapi dengan sikap yang sama. Ada sebagian anak yang mereka membutuhkan untuk diberikan sikap-sikap yang halus dan lembut, sehingga dalam mendidik mereka juga harus dengan kelembutan dan penuh dengan kasih sayang, tidak perlu menggunakan kekerasan. Namun adapula sebagian anak yang mereka membutuhkan untuk disikapi dengan keras dalam pendidikan, sehingga terkadang sang anak harus dipukul atau yang semisalnya, tapi hal ini tentunya sesuai dengan kadarnya dalam syariat. Oleh karena itu sangat dibutuhkan kesabaran dalam mendidik sang anak. Dan peran orang tua sangatlah besar dalam hal ini.

Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam (yang artinya) : setiap dari kalian adalah penanggungjawab, dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang imam (penguasa) dia adalah penanggungjawab dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap rakyatnya, dan seorang  suami adalah penanggungjawab atas keluarganya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka, dan seorang istri dia adalah penanggungjawab atas rumah suaminya dan anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadapnya, dan seorang budak adalah penanggungjawab atas harta tuannya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya, maka ketahuilah sesungguhnya setiap dari kalian adalah penanggungjawab dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. (HR. albukhori dan muslim dari ibnu umar)

Maka dari hadits yang mulia ini menunjukan kepada kita bahwa orang tua itu bertanggungjawab atas anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya. Jika sang anak menjadi rusak disebabkan oleh orang tuanya, maka orang tuanya akan mendapatkan dosa sesuai dengan perbuatannya, namun apabila sang anak menjadi anak yang baik dengan sebab mereka, maka mereka juga akan mendapatkan pahala sesuai dengan perbuatan mereka. Oleh karena itu hendaklah orang tua mendidik anaknya agar dia menjadi anak yang sholih yang taat kepada Allah subhanahu wata'ala dan menyejukan mata kedua orang tuanya.

Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : apabila seorang itu meninggal, maka akan terputus amalannya kecuali dari tiga perkara, shodaqoh jariah (shodaqoh yang manfaat dari shodaqoh itu terus ada), ilmu yang diambil manfaat dengannya, dan seorang anak yang sholih yang mendoakan untuk orang tuanya. (HR. muslim dari Abu Hurairoh)

Maka sungguh sangat beruntung bagi orang tua yang mereka memiliki anak yang sholih, mereka akan senantiasa mendapatkan pahala walaupun mereka telah meninggal dunia. Maka dari sini hendaklah para orang tua itu, mereka semangat dalam mendidik dan membimbing anak-anak mereka.

Kemudian, dalam mendidik sang anak tentunya dibutuhkan adanya saling bantu membantu antara kedua orang tua, apabila salah seorang diantara mereka mengabaikannya, maka tidak akan terwujud anak yang sholih kecuali apabila dikendaki oleh Allah subhanahu wata'ala. Sang anak akan belajar dari sang ayah hal-hal yang dilakukan diluar rumahnya dan dia juga akan belajar dari sang ibu hal-hal yang dilakukan didalam rumahnya. Sehingga penting bagi orang tua untuk senantiasa membimbing sang anak baik ketika dia didalam rumah atau ketika dia berada diluar rumah.

Pendidikan yang paling utama untuk diberikan kepada sang anak adalah pendidikan agama, karena agama inilah yang akan membimbingnya untuk senantiasa berada didalam jalan kebaikan. Dan dengan dia mengetahui tentang agamanya, maka dia akan mengetaui tentang tujuan dia hidup di dunia ini. Allah subhanahu wata'ala berfirman (yang artinya) : dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaKu (Ad dzariyat : 56)

Maka dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwasanya yang paling penting adalah seorang anak itu mengetahui tentang Allah subhanahu wata'ala dan juga syariat-syariatNya, agar dia bisa menunaikan ibadah yang benar kepada Allah subhanahu wata'ala.

Oleh karena itu, hendaknya pendidikan yang pertama kali diberikan kepada sang anak adalah mendidiknya untuk mengenal tentang aqidah yang benar, karena aqidah ini merupakan pondasi bagi amalan-amalan yang akan dikerjakannya. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam, beliau pernah berkata kepada Ibnu Abbas (yang artinya) : sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat, jagalah Allah (yakni jagalah syariat-syariat Allah) niscaya Allah akan menjagamu, jagalah Allah niscaya kamu akan dapati Allah ada dihadapanmu (yakni Allah akan menunjukimu pada seluruh kebaikan), apabila kamu meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika kamu meminta pertolongan maka mintalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwasanya kalau seandainya seluruh umat bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu maka niscaya mereka tidak akan bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang Allah subhanahu wata'ala telah tuliskan untukmu, dan kalau seandainya mereka bersatu untuk memberikan bahaya kepadamu niscaya mereka tidak akan mampu untuk memberikannya kecuali dengan sesuatu yang Allah subhanahu wata'ala telah tuliskan atasmu, pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering (yakni seluruhnya telah ditetapkan oleh Allah subhanahu wata'ala). (HR. At tirmidzi dari Ibnu Abbas)

Dalam hadits yang mulia ini terkandung banyak sekali faidah, diantaranya :
pentingnya mengajari anak tentang aqidah yang benar sebagaimana Rosulullah subhanahu wata'ala mengajarkannya kepada ibnu abbas
bagusnya pendidikan Rosulullah subhanahu wata'ala dan beliau merupakan suri tauladan yang terbaik bagi umatnya
pentingnya mengenal Allah subhanahu wata'ala, karena dengan mengenal Allah subhanahu wata'ala maka Allah subhanahu wata'ala akan menjaganya
menetapkan adanya taqdir yang Allah subhanahu wata'ala telah tetapkan untuk makhluk-makhlukNya
tidak ada yang bisa memberikan manfaat dan madhorot kecuali Allah subhanahu wata'ala

Kemudian, diantara hal yang penting untuk diberikan kepada sang anak semenjak dia masih kecil adalah mengajarinya Al quran. Banyak sekali keutamaan yang bisa diraih dengan seorang itu mempelajari Al quran. Oleh karena itu, hendaklah para orang tua mendidik agar sang anak senang dengan Al quran. Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al quran dan yang mengajarkannya. (HR. Al bukhori dari Utsman bin Affan)

Bimbinglah sang anak agar dia selalu membaca Al quran setiap harinya walaupun mungkin hanya sedikit yang dia baca. Karena membaca Al quran itu pahalanya sangatlah banyak. Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam (yang artinya) : barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitabullah (Al quran) maka dia akan mendapatkan satu kebaikan, dan satu kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kebaikan yang semisalnya, aku tidak mengatakan alif lam miim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan miim satu huruf. (HR. At tirmidzi dari Abdullah bin Mas'ud).

Dan sungguh sangat disayangkan dizaman sekarang ini banyak dikalangan anak-anak yang mereka meninggalkan Al quran. Bahkan yang lebih parah lagi ada diantara mereka yang tidak bisa membaca Al quran sama sekali. Anak-anak banyak disibukkan dengan bacaan-bacaan yang tidak bermanfaat dan bahkan terkadang bisa merusak pemikiran dan akhlak sang anak. Tidak sedikit pula apabila ada seorang anak yang dia membaca Al quran di sekolah ataupun tempat lainnya, lalu anak-anak yang lain mengolokinya dengan julukan-julukan yang buruk, seperti ketinggalan zamanlah, kurang pergaulanlah, sok alim atau yang lainnya. Ini semua merupakan musibah yang besar yang melanda anak-anak kaum muslimin.

 Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk mendidik anak-anak agar mereka mencintai Al quran dan membacanya serta mengamalkannya. Dan peran orang tua dalam hal ini sangatlah besar. Apabila sang anak mereka melihat orang tuanya gemar membaca Al quran baik dimasjid, dirumah, ataupun di tempat-tempat yang lainnya yang dibolehkan untuk membaca Al quran, maka tentunya diharapkan sang anak nantinya akan mencontoh perbuatan orang tuanya. Namun sebaliknya, apabila sang anak juga jarang melihat orang tuanya membaca Al quran baik dimasjid ataupun dirumahnya, maka tatkala mereka disuruh untuk membaca Al quran tentunya mereka akan bisa beralasan dengan perbuatan orang tuanya sehingga dia pun enggan untuk membaca Al quran.

Dan hendaknya pula bagi orang tua khususnya dan juga bagi kita semua untuk menegur sang anak apabila dia membaca sesuatu yang tidak bermanfaat baginya, terlebih lagi apabila dia membaca hal-hal yang tidak pantas untuk dia baca. Dan juga hendaklah kita selalu berusaha untuk menghadirkan atau memberikan buku-buku bacaan yang bermanfaat bagi sang anak, karena hal itu bisa menambah keilmuan sang anak dan juga bisa menghindarkan sang anak dari membaca bacaan-bacaan yang tidak bermanfaat.

Kemudian tidak kalah pentingnya juga adalah mengajari sang anak untuk menegakkan sholat karena sholat merupakan tiang agama ini. Dan sholat ini merupakan pembeda antara seorang yang muslim dan yang kafir. Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): perintahkanlah anak-anak kalian untuk sholat ketika sudah berumur tujuh tahun, dan pukullah (jika mereka enggan) ketika sudah berumur sepuluh tahun. (HR. Ahmad dari 'Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya)

Dalam hadits ini walaupun disebutkan tujuh tahun baru diperintah untuk sholat, namun bukan berarti kita membiarkan anak-anak yang belum tujuh tahun untuk meninggalkan sholat. Namun kita tetap berusaha melatih mereka walaupun belum mencapai tujuh tahun untuk mengerjakannya agar mereka terlatih semenjak kecilnya. Dan diantara bentuk mengajari sang anak sholat adalah kita mengajaknya untuk mengerjakan sholat, walaupun mungkin sang anak baru bisa mengikuti gerakan-gerakannya saja, tapi minimalnya ini sudah menggambarkan baginya tentang sholat dan dikemudian hari dia melakukannya dengan yang lebih sempurna.

Dan kita lihat sekarang ini, banyak diantara anak-anak kaum muslimin yang mereka meninggalkan sholat. Mereka sibuk bermain kesana kemari atau dengan hal – hal yang lainnya. Ini adalah diantara akibat sang anak tidak dididik semenjak kecilnya untuk mengerjakan sholat sehingga tatkala telah besar mereka pun dengan mudah meninggalkan sholat.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya bagi kita semua untuk memperhatikan pendidikan agama bagi anak-anak kita. Dan disana masih banyak lagi hal-hal penting yang sudah sepantasnya diajarkan kepada sang anak semenjak dia kecil. Mudah-mudahan tulisan yang ringkas ini bisa memberikan faidah kepada kita semua. Wallahu A'lam bish showab.



penulis : abu ali banyumas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar